[1]News / Sistem TI Pemilu Seharusnya Tidak Terpusat * [2]Home * [3]Publications * [4]Projects * [5]Presentations * [6]In The News * [7]Speaking Schedule Sistem TI PEMILU Seharusnya Tidak Terpusat detikcom - Jakarta, Pengamat Telematika, Roy Suryo, menyayangkan topologi jaringan komputer Pemilu yang terpusat. Menurutnya, pemusatan tersebut bisa memicu tragedi dalam komputerisasi Pemilu. Seperti dikemukakannya kepada detikcom, Selasa (24/02/04), sistem Teknologi Informasi (TI) yang terpusat yang akan digunakan pada Pemilu 2004 mendatang menyimpan potensi tragedi. "Bisa terjadi tragedi TI seperti tragedi melempar jumroh di Mina, ini karena semuanya menuju ke satu titik," ujarnya. Sistem komputer yang akan digunakan dalam Pemilu 2004 mendatang merupakan sistem yang tersentralisasi. Sistem itu, intinya, akan terdiri dari sebuah server besar di Jakarta untuk menampung data perhitungan suara yang dikirimkan dari tiap-tiap daerah pemilihan. Hal itu dikritisi oleh Roy karena ada risiko terjadinya kemacetan data yang dikirimkan dari tiap daerah. "Waktu yang hanya 9 jam itu adalah waktu yang sangat kritis, masalahnya ada lebih dari 5000 titik yang akan berusaha mengirimkan data pada waktu yang terbatas itu," jelasnya. Sedangkan jika sistemnya terdistribusi, menurut Roy, akan memiliki banyak keunggulan. Ia mengandaikan terjadinya kemungkinan terburuk bahwa server di Jakarta terkena force major dan rusak total. "Kalau distributed, paling tidak di PPD (Panitia Pemilihan Daerah -red.) masih ada datanya, sehingga jika harus retrieving (diambil) kembali lebih mudah," sebut pengamat dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, ini. Menarik Minat Hacker Digunakannya satu server besar yang terpusat juga menurut Roy telah memancing minat hacker. "Tipikal teman-teman yang suka ngehack, kalau ada (target) yang lebih besar pasti akan mengejar yg lebih besar. Adrenalinnya akan terpicu untuk menyerang," ungkapnya. Menurut Roy, di beberapa mailing list dan chatroom sudah mulai marak perbincangan mengenai hal tersebut. "Mulai ada sounding (pembicaraan) untuk menyerang KPU," ujar Roy. Sementara, Roy menilai, fakta bahwa KPU sangat percaya diri akan keamanan sistem tersebut juga akan memicu minat para hacker. "Mereka ini, semakin terangsang kalau ditantang," ujarnya. Meski demikian, Jim Geovedi, aktivis keamanan komputer, berpendapat bahwa serangan dari dalam sama besar kemungkinannya dengan serangan dari luar. "Untuk kalangan tertentu, mungkin saja penyerangan terhadap sistem penghitungan suara Pemilu adalah sesuatu yang menarik," imbuhnya. Latihan dengan Biaya Besar Data yang dikumpulkan dan dihitung melalui komputer dalam Pemilu 2004 ini memang tidak akan digunakan sebagai data perhitungan akhir. Sebagaimana diamanatkan undang-undang Pemilu, hasil perhitungan suara yang akan digunakan adalah hasil perhitungan secara manual. Menurut Roy, adanya fakta itu seakan-akan menegaskan bahwa sistem TI itu hanyalah sebuah latihan untuk Pemilu berikutnya. "Kalau begitu, ini latihan dengan biaya yang terlalu besar... seakan-akan, dana hampir Rp 200 Miliar itu menguap begitu saja," lanjutnya. Diakuinya bahwa banyak hal yang bisa dipelajari dari sistem TI Pemilu 2004. "Apakah sistemnya bisa dipertahankan seperti ini? Bagaimana proteksinya terhadap serangan dari luar? juga training (operator komputernya -red.)," Roy mencontohkan. Roy lebih lanjut juga mengkritisi sitem pelatihan bagi operator komputer Pemilu 2004 ini yang dilakukan secara training for trainers, yaitu dengan sistem berantai mirip MLM (multi level marketing). "Pasti ada informasi yang terdistorsi... tidak semua ilmu yang ada di pusat bisa sampai ke daerah," imbuhnya. Copyright © 2004-2006. Jim Geovedi <[8]jim@geovedi.com> Page last modified on December 02, 2005, at 04:52 PM References 1. http://jim.geovedi.com/News 2. http://jim.geovedi.com/Main/HomePage 3. http://jim.geovedi.com/Publications/HomePage 4. http://jim.geovedi.com/Projects/HomePage 5. http://jim.geovedi.com/Presentations/HomePage 6. http://jim.geovedi.com/News/HomePage 7. http://jim.geovedi.com/SpeakingSchedule/HomePage 8. mailto:jim@geovedi.com