[1]News / Manifesto Hacker * [2]Home * [3]Publications * [4]Projects * [5]Presentations * [6]In The News * [7]Speaking Schedule Manifesto Hacker KESAL! Barangkali itulah yang membidani lahirnya manifesto yang ditulis seorang hacker dengan nama samaran The Mentor. Pernyataan sikap yang berkaitan dengan anggapan buruk akibat maraknya kejahatan cyber atau penyalahgunaan ilmu hacking itu, akhirnya menjadi patokan sikap para hacker seluruh dunia. Pernah dimuat di majalah Phrack edisi 25 September 1986, dan isinya sungguh mewakili emosi mereka. The Mentor menuliskan: Ini adalah dunia kami sekarang, dunia elektron dan switch, keindahan sebuah baud (satuan kecepatan transmisi data. 1 baud=1bit/detik). Kalian sebut kami kriminal, padahal kami mendayagunakan sebuah sistem yang telah ada tanpa membayar, yang seharusnya bisa sangat murah jika tidak dicampuri dengan ketamakan. Kami bereksplorasi, tetapi kalian sebut kami kriminal. Kami mengejar pengetahuan, tetapi kalian sebut kami kriminal. Kami hadir tanpa perbedaan warna kulit, kebangsaan, ataupun prasangka keagamaan, dan kalian sebut kami kriminal. Kalian membuat bom atom, menggelar peperangan, membunuh, berlaku curang, membohongi, dan mencoba meyakinkan kami bahwa semua itu demi kebaikan kami. Tetapi tetap saja kami yang disebut kriminal. Ya, aku memang seorang kriminal. Kejahatanku adalah rasa keingintahuanku. Kejahatanku adalah karena menilai orang lain dari apa yang mereka katakan dan pikirkan, bukan pada penampilan. Kejahatanku adalah menjadi lebih pintar dari kalian, sesuatu yang tidak akan pernah kalian maafkan. Aku memang seorang hacker, dan inilah manifestoku. Kalian bisa saja menghentikanku, tetapi kalian tidak mungkin menghentikan kami semua. Bagaimanapun kami semua senasib seperjuangan. Manifesto itu pada dasarnya ingin menunjukkan bahwa ilmu hacking bisa sangat bermanfaat jika digunakan dengan benar. Bila kemudian muncul kejahatan cyber yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, janganlah kemudian disamaratakan. Hacker yang sesungguhnya tidak akan melakukan kejahatan, tetapi lebih pada keinginan membangun sistem jaringan keamanan komputer yang lebih baik. "Mereka hanya ingin menunjukkan pada pengelola perusahaan bahwa sistem keamanan jaringan komputer mereka tidak aman, sehingga bisa segera diperbaiki," papar Budi Rahardjo, pakar teknologi informasi dari ITB. Karena tujuan tersebut, maka komunitas hacker di Paris mendirikan sekolah khusus yang mengajarkan ilmu hacking. Zi Hackademy didirikan pada 2001, membuka program yang bisa diikuti segala usia. Seperti sekolah pada umumnya, Zi Hackademy juga memiliki kelas, kurikulum dan pengajar. Mereka belajar ilmu hacking dan kode etik para hacker. Yang jelas, ilmu tersebut tidak boleh digunakan untuk iseng, apalagi melakukan kejahatan. Komunitas hacker juga menyelenggarakan kompetisi. Di antaranya diselenggarakan di Singapura pada 2004. Ada pula ajang pertemuan para hacker. Salah satunya dinamai Defcon. Tahun ini, Defcon ke-13 akan diselenggarakan di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat. Disebutkan, ajang ini punya misi mulia, berbagi pengetahuan. Perkara akan digunakan untuk kebaikan atau kejahatan adalah pilihan masing-masing individu. Mengutip perkataan Jim Geovedi, keberadaan hacker bagaikan sebilah pisau. Jika berada di tangan yang benar, akan bermanfaat. Namun, jika jatuh di tangan yang salah, bisa mengundang bencana. [8]http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2005010900524113 Copyright © 2004-2006. Jim Geovedi <[9]jim@geovedi.com> Page last modified on December 02, 2005, at 04:46 PM References 1. http://jim.geovedi.com/News 2. http://jim.geovedi.com/Main/HomePage 3. http://jim.geovedi.com/Publications/HomePage 4. http://jim.geovedi.com/Projects/HomePage 5. http://jim.geovedi.com/Presentations/HomePage 6. http://jim.geovedi.com/News/HomePage 7. http://jim.geovedi.com/SpeakingSchedule/HomePage 8. http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2005010900524113 9. mailto:jim@geovedi.com