[1]News / Hentikan Perang Cyber * [2]Home * [3]Publications * [4]Projects * [5]Presentations * [6]In The News * [7]Speaking Schedule Hentikan Perang Cyber PARA hacker sering kali disebut sebagai legenda dan pendekar dunia maya. Pasalnya, dari merekalah kelemahan sebuah program diketahui dan kemudian terus diperbaiki. Bagaimana dengan cracker? 'Legenda' yang sebenarnya menggunakan ilmu yang sama ini banyak diperdebatkan. Ada yang beranggapan masih bisa ditolerir selama tidak merusak sistem, tapi ada juga yang langsung memasukkan ke kategori kriminal. Alasannya, para cracker telah mendobrak masuk, mengubah tampilan situs dan terkadang malah merusak sistem jaringan utama. Berkaitan dengan serang-menyerang antarcracker Indonesia dan Malaysia, Wakil Sekjen Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Johar Alam mengatakan, selama hanya men-deface atau mengubah tampilan dengan alasan nasionalisme, tindakan mereka masih bisa diterima. Namun di sisi lain, defacing tetap menimbulkan kerugian. "Apalagi jika merusak website layanan publik sehingga tidak bisa diakses. Pelakunya bisa dijerat tuduhan terorisme dan diancam hukuman berat," tandasnya. Lebih keras dari Johar, Ketua Indonesia-Computer Emergency Response Team Budi Rahardjo menegaskan, tidak ada satu pun pembenaran atas tindakan para cracker Malaysia dan Indonesia. Dia khawatir tindakan para cracker bisa berdampak buruk pada program kerja sama kedua negara. Dalam hitung-hitungan ekonomi, kerugian materiil ditaksir mencapai Rp25 juta per website untuk perbaikan server yang melayani transaksi. Sedangkan kerugian immateriil menurut Budi menyangkut citra server yang berhasil di-deface. Pernyataan senada juga dikemukakan Jim Geovedi, mantan hacker yang kini bekerja di sebuah perusahaan konsultan jaringan keamanan komputer. Dia menandaskan, tindakan para cracker lebih banyak menimbulkan kerugian. Dari segi citra, Indonesia akan lebih terpuruk. "Selama ini kita dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat kriminal dunia maya yang tinggi. Dengan peristiwa perang cyber sekarang, saya khawatir citranya akan tambah buruk," ujarnya. Selain itu, dari segi bisnis akan menimbulkan banyak kerugian. Citra keamanan lembaga, perusahaan atau pun organisasi yang terkena serangan bisa langsung jatuh. Apalagi jika yang diserang situs bank. Masih soal kerugian, Jim khawatir tindakan men-deface akan berkembang ke perusakan sistem jaringan. Jika itu terjadi, maka kerugian materi akan sangat besar. Jumlahnya bervariasi, dari puluhan juta hingga mencapai miliaran rupiah. Dengan kerugian yang begitu besar, tidak heran jika Johar, Budi dan Jim mengimbau agar perang cyber Indonesia Malaysia segera dihentikan. Diwawancara terpisah pakar Teknologi Informasi Onno W Purbo dan S'to menyatakan pemerintah perlu angkat bicara untuk menghentikan berlangsungnya perang cyber. Kedua pakar ini menilai perhatian pemerintah terhadap masalah ini sangat kurang. Padahal, kerugian yang ditimbulkan bisa sangat besar. "Sudah sepantasnya presiden atau minimal menteri komunikasi dan informasi angkat bicara mengimbau agar perang dunia maya ini dihentikan. Mereka harus mengakui bahwa komunitas underground ada dan kian berkembang," papar Onno. Selain pemerintah, Onno meminta agar para dedengkot dunia cyber seperti S'to dan Xnuxer --nama lain Dani Firmansyah-- juga angkat bicara. "Sekarang ini mereka adalah orang-orang yang disegani. Jadi kalau mau bicara pasti didengar." Dihubungi terpisah S'to mengatakan, pada awalnya aksi serang cracker Indonesia Malaysia memang didasari nasionalisme. Tapi belakangan sudah melenceng. Hal itu dapat dilihat dari pergeseran situs yang diserang. Bukan hanya milik pemerintah, tapi juga situs pendidikan dan hak asasi manusia. "Dengan eskalasi yang semakin meningkat, pemerintah perlu segera mendamaikan. Selain itu, kementerian komunikasi dan informasi lebih baik mengakomodir potensi komunitas ini," tukasnya. Dalam wawancara yang dilakukan lewat e-mail, Xnuxer juga sudah melontarkan imbauan agar perang antarcracker Indonesia Malaysia dihentikan. Apalagi, katanya, saat ini pemerintah Indonesia Malaysia sedang mengupayakan penyelesaian damai. Koordinator Information and Communication Technology Watch Donny BU juga menyerukan imbauan yang sama. "Harus segera dihentikan. Selain itu, pemerintah juga perlu bicara. Mereka seharusnya merangkul potensi komunitas underground." Jika tidak segera diatasi, Donny khawatir perang cyber yang terjadi akan semakin merugikan. Dia melihat para cracker. sudah mulai menyebar virus untuk mematikan sistem. "Ini berbahaya," tandasnya. Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Alvin Lie juga melihat bahaya tersebut. Karena yang dirusak situs milik negara, Alvin meminta pemerintah segera mengambil langkah tegas. "Jika dibiarkan akan menumbuhkan kebencian antara kedua warga sipil. Pemerintah kedua negara harus menghentikan dan pelakunya harus dihukum." [8]http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2005032000493235 Copyright © 2004-2006. Jim Geovedi <[9]jim@geovedi.com> Page last modified on December 02, 2005, at 04:45 PM References 1. http://jim.geovedi.com/News 2. http://jim.geovedi.com/Main/HomePage 3. http://jim.geovedi.com/Publications/HomePage 4. http://jim.geovedi.com/Projects/HomePage 5. http://jim.geovedi.com/Presentations/HomePage 6. http://jim.geovedi.com/News/HomePage 7. http://jim.geovedi.com/SpeakingSchedule/HomePage 8. http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2005032000493235 9. mailto:jim@geovedi.com