http://korantempo.com/korantempo/2008/06/20/Suplemen/krn,20080620,75.id.html Jumat, 20 Juni 2008 Suplemen HACKER TAK SELALU MERUSAK Banyak hacker jadi konsultan atau membuat sistem pengamanan komputer. Selasa pekan lalu, ada yang berbeda di Festival Komputer Indonesia. Bukan soal produk yang dipamerkan, melainkan adanya konferensi hacker di sana. Hacker? Sebutan untuk orang yang masuk ke sistem atau jaringan komputer orang lain ini telanjur identik dengan perusak. Apakah pertemuan itu jadi ajang berbagi teknik merusak sistem orang lain? Tentu saja tidak. Anselmus Ricky, hacker yang menjadi salah satu pembicara, membantah ajang itu untuk berbagi tip membobol sistem komputer orang lain. Makna hacker sebenarnya adalah orang yang pandai mengoperasikan komputer. "Selama ini orang salah arti tentang hacker," ujar mahasiswa Universitas Teknologi Sydney ini. Ada beberapa kategori hacker, yakni white hat hacker, black hat hacker, blue hat hacker, grey hat hacker, dan hacktivist. White hat adalah hacker yang masuk ke sistem komputer orang lain tapi tidak merusak. Dia justru memberi masukan bahwa sistem itu bermasalah dan ada celah untuk dibobol. Kebalikannya adalah black hat. Hacker inilah yang perusak. "Mereka ini memasuki sistem dan merusak dengan berbagai cara," kata pria 21 tahun ini. Adapun grey hat di antara white dan black hat. Kategori ini suka memasuki sistem orang lain lalu meninggalkan pesan. Blue hat punya kemampuan seperti white hat, tapi berkecimpung di dunia pendidikan. Sedangkan hacktivist menyerang sebuah sistem lalu meninggalkan pesan-pesan yang sifatnya politis. Di luar negeri, hacker malah jadi profesi berpenghasilan "wah". Ricky mencontohkan, untuk membuat satu sistem keamanan jaringan web, hacker dibayar US$ 650 hingga US$ 6.000, tergantung besaran web dan tingkat kesulitannya. Ricky, yang bergerak di bidang ini, punya sejumlah klien yang pernah diserang hacker hitam. Salah satu kliennya adalah Register.net.id. Semua data klien yang terdaftar di domain ini dan menggunakan domain .net.id berpotensi dibobol. Karena itulah, Ricky diminta membuat sistem penangkalnya. Pembicara lain, Jim Geovedi, mengatakan aktivitas hacking adalah keterampilan yang bisa dimanfaatkan untuk banyak hal. "Kalau untuk tujuan baik, bisa jadi konsultan atau editor. Tapi kalau negatif, bisa jadi orang yang dibayar untuk mengirim spam, membobol, atau merusak sistem," ujarnya. Berprofesi hacker tak harus bergabung dengan institusi atau perusahaan mapan. Banyak rekannya yang bekerja mandiri dan mendapat hasil dari keterampilan hacking. "Misalnya membuat virus lalu dijual. Sebenarnya, bergantung pada orangnya," kata pria 28 tahun ini. Contoh lain, hacker bisa membuat versi baru iPhone, lalu dijual dengan harga lebih murah. Atau, membuat kode aplikasi untuk dijual kembali. Jim sendiri terjun di bidang konsultan keamanan informasi sejak 2000, ketika dia sadar bidang ini bisa jadi profesi. Saat itu, baru ada 1-2 orang yang menekuni bidang ini di Indonesia. Ia memulai dari awal dengan mempelajari sendiri. Jim, yang pernah menjadi black hat hacker, mengaku pernah membobol sistem informasi perusahaan terkemuka. Saat itu ia hanya masuk ke sistem, tapi tidak melakukan apa-apa. "Ingin tahu saja bagaimana sesuatu itu bekerja." Bermula dari iseng membobol sistem orang lain untuk mempelajari bagaimana sistem itu, Jim akhirnya menjadi konsultan sistem keamanan informasi. Pada 2003, bersama rekannya, Anthony Zboralski, yang berkebangsaan Prancis, Jim mendirikan Bellua. Ide pendirian perusahaan jasa keamanan informasi ini dilatari banyak perusahaan yang mengimplementasikan teknologi informasi, tapi kurang memperhatikan soal keamanan. "Saat teknologi informasi makin berkembang tapi perusahaan itu tidak siap, mudah disusupi (hacker)." KARTIKA CANDRA